Saturday, 23 October 2010

Muka Manis

Pernahkan anda merasa ada segelintir orang yang terlihat kurang bersahabat, sombong, jutek, dsb? Well, mungkin saya salah satunya dari yang pernah anda lihat.

Hmm, sekedar klarifikasi (macam artis) saya sebenernya gak kayak gitu lhooo. Terlihat iya, tapi sifat aslinya saya rasa gak. Sedih kadang ketika ada yang menjudge kayak gitu. I mean, you got to know me closer, dude! Tapi... Yah, apa mau dikata, yasudahlah ya. Orang bebas menilai. Itulah mengapa judulnya 'muka manis', muka yang tidak bisa saya kenakan. Ha!

Setelah ditelaah, ada 2 hal yang menyebabkan saya tidak bisa ber'muka manis' di depan orang yang asing, tidak begitu kenal, tidak begitu dekat:
  1. Bawaan muka. Muka saya memang seperti ini dari lahir ya, efek mata sipit juga mungkin, jadi seolah-olah mencibir :(
  2. Karena memang saya... belum bisa. Saya tidak akan bilang tidak bisa ber'muka manis' karena, in fact, saya pun terus menerus mencobanya. Susah lho. Di satu sisi saya merasa saya akan sangat membutuhkan si 'muka manis' ini di saat genting (mis: interview kerja suatu saat nanti), tapi di sisi lain saya merasa sangat fake. Memang sih 'muka manis' tak bisa dikatakan menjilat, tapi saya paling tidak bisa berbaik-baik karena mengharapkan sesuatu

Intinya, beruntunglah anda sekalian yang ber'muka manis' hehe :)

Tuesday, 29 June 2010

21

Kurang lebih sudah 2 bulan saya menyandang umur 21. Ya, 21 adalah umur yang dianggap sudah dewasa baik dari segi fisik maupun emosional. Di angka ini pula seseorang telah dianggap menemukan titik kebijaksanaan dalam hidupnya.


Tapi oh tapiii........... Kenapa ya saya tidak merasa seperti itu?


Dari segi emosional dan kedewasaan saya merasa ada kemajuan walaupun sebagai manusia tentu gak akan pernah sempurna. Dari segi fisik... Nah, itu dia. Sejak SD sampai sekarang jadi mahasiswi semester 6 pertumbuhannya hampir statis! Tinggi maupun berat gak jauh beda. Baju umur 12 masih bisa dipake di umur 21 ini. Miris =(


Muka menua tentunya, tapi kalau dibanding jaman SMP, lagi-lagi hampir statis!
Sisi positifnya:
Berarti saya awet muda dong =p
Sisi negatifnya:
Kadang iri ngeliat orang-orang yang saya kenal terlihat bertambah dewasa, dandan, kulit perawatan, rambut pun lebih terawat, semakin cantik deh intinya. Sedangkan saya??? Masih begini-begini aja


Memang sampai detik ini saya masih sangat awam dalam hal-hal kecantikan. Terakhir kali ke salon? Kira-kira 6 bulan yang lalu. Itupun cuma creambath. Belum pernah seumur hidup nyobain selain potong, creambath, catok dan ergh... smoothing. Manicure pedicure, hair mask, luluran, dll belum pernah. Sampai saya gak tau jaman sekarang pelayanan apalagi yang ada di salon. Dokter muka? Apalagi. Ngeliat muka dokternya aja belum pernah. Mau sih nyobain semua itu... Cuma entahlah, masih ragu. Tapi mau! Tapi ragu. Hmm

Monday, 21 June 2010

LM - A - CT

Ya, siapa yang gak tau? Belakangan ini beritanya terus muncul di televisi, mulai dari infotainment sampai berita, dari orang awam sampai tokoh agama, bahkan para elit politik dan hukum pun ikut angkat bicara. Sekarang giliran saya, saya akan angkat bicara.

Pertama, kalau itu benar mereka, maka saya sangat menyayangkan. Menyayangkan segala kecerobohan mereka. Melakukan - memvideokan - menyimpan videonya - kehilangan laptop - beredar di masyarakat luas. Kalau hanya sampai tahap ke 3, oke, mereka salah, mereka berdosa (dan semua manusia juga pernah berdosa) tapi itu dosa mereka, dosa yang harus mereka pertanggungjawabkan kepada Tuhan. It's none of anyone's business. Cukup masing-masing dari mereka dan Tuhan. 2 tahap terakhir mungkin yang membuat ini menjadi skandal. Skandal yang sudah besar tapi masih terus dibesar-besarkan.
Kedua, apa sih yang membuat masyarakat terus-menerus menghebohkan masalah ini? Apa yang menurut mereka sangat merugikan? Perbuatannya atau peredarannya? Saya capek, bangun di pagi hari dan (lagi-lagi) disuguhi berita tentang mereka. Kenapa juga ada sebagian entah ormas entah masyarakat non organisasi yang sampai mendemo kafe bahkan rumah orang tua mereka? Sampai mengusir dari kota kelahirannya. Ada juga pemerintah setempat yang mencekal mereka untuk datang. Kenapa? Sebelumnya mungkin juga orang-orang itu mengidolakan mereka. Inilah bukti bahwa sebagian masyarakat Indonesia suka membesarkan aib orang lain, suka melihat orang menderita, suka ikut campur, merasa paling gak punya salah, dan mempunyai reaksi yang berlebihan. Hiperbol! Ada lagi orang yang jelas-jelas dulu aibnya terkuak dan sekarang menguak-nguak aib orang lain. Siapa lagi kalau bukan si pengacara 'kondang'. Maksud saya, hellooo... Situ siapa sih? Gak ada hubungan gak ada apa, gak dirugikan pula, kok tiba-tiba ngotot pengen mempidanakan mereka.
Ketiga, tolonglah. Jangan hobi menghakimi orang lain. Berpendapat boleh, sangat boleh. Tapi kalau untuk menghakimi... Coba deh pikir lagi. Gimana kalau kita yang ada di posisi mereka? Jangan bilang "Ah, gak bakalan". You'll never know.

Kalau saya ditanya "Siapa yang salah kalau begitu?". Maka saya akan menjawab "Pengedarnya". Kenapa begitu? Menurut saya, apa yang mereka lakukan, asal untuk konsumsi pribadi mereka dan selama tidak merugikan saya, yasudah! Bukan urusan saya!

Thursday, 10 June 2010

Fleksibilitas vs Kebiasaan

Hari ini saya akan menulis tentang diri saya sendiri. Ya, saya sendiri. Boleh kan? Boleh dong. Gapapa kan? Gapapa dong :p
Saya akan membahas tentang kesukaan yang berubah menjadi kebiasaan lalu berujung menjadi peraturan bagi diri sendiri.


  1. Setiap makan memakai sendok garpu, baik di rumah atau di mana pun, saya akan mencari yang ujung gagang sendok dan garpunya sama.
  2. Saya lebih suka memulai sesuatu dari awal. Bisa dari tanggal awal hari, awal minggu, awal bulan, dan awal tahun.
  3. Ketika akan (misalnya) mencatat, saya akan menulis tanggal terlebih dahulu. Jika saya salah menulis tanggal, maka mood mencatat saya buyar.
  4. Saya memang tidak begitu rapih, tapi saya menyukai sesuatu yang teratur, kronologis, dan berdasar abjad.
  5. Mengenai angka, saya lebih menyukai angka yang digenapkan. Kelipatan 5 atau 10. Maka sebisa mungkin saya akan menggenapkan apapun yang berjumlah.
(to be continued)

    Monday, 24 May 2010

    Darah

    Topik yang agak horor, ya? Hmm, tidak seperti itu kok. Aku berkaitan dengan beberapa hal berhubungan dengan darah:
    • Aku sering mimisan sejak kecil. Biasanya ketika pilek, capek, atau cuaca panas. Pernah juga karena kena sikut kakakku, tapi itu rasanya sakit dan mimisan tidaklah sakit. Lucu terkadang ketika orang khawatir melihatku mengeluarkan darah dari hidung. Mereka pikir itu sakit, padahal tidak sama sekali. Rasanya seperti air keluar dari hidungmu. Tidak sakit. Menurut dokter, pembuluh darah di hidungku tipis. Karena itu aku sering mimisan.
    • Mukaku pucat dan orang mengira aku kurang darah. Aku meminum suplemen penambah darah ketika mimisan sedang sering-seringnya, tapi selain itu aku merasa tidak kekurangan darah. Aku sehat dan bertenaga! :D
    • Aku darah rendah. Ya, sepertinya iya. Karena mamaku juga. Aku kuat jalan dan berdiri lama, tapi tidak dengan jongkok. Itu membuatku keringat dingin 
      Selebihnya mungkin hanya dikaitkan.
      • Aku suka merah dan itu warna darah pada manusia.
      • Aku kehilangan 2 gigi seri dan punya 5 taring. Itulah yang membuat gigiku terlihat berantakan dan tajam seperti vampir. Ya, vampir. Si penghisap darah itu. Ditambah muka pucatku.
      Oh ya... satu lagi
      • Aku tidak pernah tau golongan darahku.

      Tulisan di atas memang kubuat karena hari ini aku mimisan. Aku sedang pilek. Itulah sebabnya. Untung tidak menetes di bedcover. Masalahnya bedcoverku baru dan motifnya belang hitam putih. Zebra.

      Aku ingin menulis lebih banyak, tapi jari-jariku pegal. Lain kali, ya. Semoga si jari pun siap.

      Adios!

        Sunday, 18 April 2010

        Wisdom Teeth

        Pernah mendengar tentang gigi bungsu atau yang lebih populer dengan sebutan wisdom teeth? Atau pernah merasakan mungkin? Berikut penjelasan yang saya ambil dari Wikipedia
        Gigi bungsu adalah gigi geraham ketiga yang muncul pada usia sekitar 18-30 tahun. Gigi bungsu termasuk dalam kategori struktur vestigial, yaitu struktur yang fungsi awalnya menjadi hilang atau berkurang sejalan dengan evolusi. Banyak ahli berpendapat bahwa perubahan jenis makanan pada manusia modern dari mentah menjadi dimasak membuat makanan lebih lunak. Selain itu, pemeliharaan gigi modern mengalami kemajuan pesat. Akibatnya kerusakan pada gigi berkurang. Kehadiran gigi bungsu yang diperkirakan dapat membantu bila ada geraham lain yang tanggal menjadi tidak berguna, malah pada kebanyakan orang menjadi masalah.

        Masalah pada gigi bungsu:
        1. Karena gigi bungsu tumbuh paling akhir, terkadang rahang tidak memiliki tempat yang cukup untuk gigi bungsu tumbuh dengan wajar. Akibatnya gigi bungsu mendesak gigi geraham yang berada di depannya. Hal ini akan mengakibatkan sakit pada gigi. Masalah ini umumnya diatasi dengan mencabut  gigi bungsu yang baru tumbuh. Bila  gigi bungsu menempati posisi yang sulit untuk dicabut, yang dicabut adalah gigi geraham yang terdesak sehingga gigi bungsu mendapat tempat yang cukup untuk tumbuh.
        2. Terkadang  gigi bungsu tidak muncul dengan sempurna pada gusi. Gusi yang menutupi gigi dapat menyebabkan penumpukan sisa makanan dan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi dan sakit pada gigi.
        Hmm, dari penjelasan di atas tahukah kenapa disebut wisdom teeth? Konon katanya disebut seperti itu karena gigi ini tumbuh di saat seseorang berusia 18-30 tahun (ada juga yang bilang 17-20, 17-25, dll) yaitu usia di mana dia dianggap dewasa atau bijaksana.
        Jumlah gigi pada manusia dewasa normalnya ada 32, yaitu 8 gigi seri, 4 gigi taring, 8 geraham depan, dan 12 geraham belakang (termasuk 4 wisdom teeth). Pada kasus gigi saya ada:
        6 gigi seri + 5 gigi taring + (yang agak rancu) 8 geraham depan + 8 1/2 geraham belakang = 27 1/2 kira-kira
        Ada 1/2 karena wisdom teeth saya sedang tumbuh sekarang. Sakiiiiit ;( sebenarnya wisdom teeth ini sdh sempat tumbuh sebelumnya, tapi baru muncul ujungnya lalu pending beberapa bulan tidak tumbuh, sekarang si wisdom teeth ini sedang melanjutkan pertumbuhannya.

        Siang ini saya berencana ke dokter gigi dan semoga wisdom teeth tidak perlu dicabut. Amin. Hehe

        Thursday, 8 April 2010

        Lalu? Mengapa?

        Beberapa orang bilang muka saya terlihat 'tanpa ekspresi', 'datar' atau biasa disebut jg flat, 'kayak gak punya keinginan', 'gak punya nafsu hidup', 'gak berambisi', dsb. Klarifikasi saya: memang beginilah muka saya, mau diapain lg?

        Saya punya keinginan, kok. Layaknya manusia lainnya-lah. Cuma saya akui saya tidak ambisius. Kalaupun saya menyukai sesuatu, maka saya menyukai sesuatu itu, bukan serentetan fakta yang menyertai si 'sesuatu' itu. Misalnya:
        1. Saya suka bermain basket. dari sd-sekarang, masih suka. tapi saya tidak suka menonton nba, ibl, dsb. bahkan saya hanya tahu beberapa pemain, itupun sekedar tahu nama, tidak hafal mereka dari klub mana, orangnya yang mana pun lupa. saya hanya suka bermain, itu saja.
        2. Saya suka lagu tertentu, biasanya saya hanya ingin tahu siapa nama yang membawakan dan apa judulnya karena saya ingin tahu liriknya. Saya tidak langsung mengatakan bahwa saya suka band/penyanyi tersebut, saya juga tidak mencari profil mereka di google, menghafal nama personelnya bahkan tanggal ulang tahunnya. Sungguh, saya tidak peduli. Agak kurang menghargai ya sepertinya? Tapi ya begitulah saya, kecuali saya sangat menginginkannya.
        3. I love being well-dressed, tapi saya tidak mempunyai fashion icon. Alasannya, mempunyai fashion icon itu seakan-akan mengiyakan semua yang dikenakan si fashion icon itu oke. Sedangkan saya hanya menyukai apa yang menurut saya oke.
        4. Saya cenderung tidak menyukai apa yang orang banyak sukai. Misalnya film Hachiko, saya sudah sejak lama ingin menonton Hachiko (versi Jepang), tapi ketika versi Amerika-nya muncul di bioskop dan orang ramai-ramai membicarakannya, saya kehilangan minat untuk menontonnya. Maaf ya, Hachiko. Rasanya tidak spesial ketika semua sudah meributkannya. Sama seperti rubik's cube. Setelah booming saya enggan menyentuh rubik. Rasa penasaran itu hilang begitu saja.
        5. Saya menyukai seni, intinya saya suka apapun yang enak dipandang mata, tapi saya tidak memaksakan diri saya untuk 'terlihat' seniman, too artsy, apalah. Karena menurut saya seni bukanlah persaingan. Saya hanya menyukainya, itu saja.

        Saya tidak mengarahkan diri saya untuk menggapai imej tertentu. Jadi apa salahnya dengan tidak menjadi orang yang menggebu-gebu?